semoga cerpen ini bermanfaat ya!! hehe...:) semoga menikmati bagi yang baca!!:) ini karyaku sendirii, jadi, masih banyak butuh bimbingannya:) terimakasih!!
The Sun is Like You
Lantunan
melodi antara piano dan biola terindah yang pernah kami ciptakan. Nada nada
indah yang kami mainkan dilantunkan dengan segenap jiwa. Memejamkan mata seakan
akan terhanyut oleh emosi yang ada. Perlahan namun pasti, melodi terus
dilantunkan, membuat suatu melodi indah yang kami ciptakan. Lagu kita. Lagu
kami. Yang kami ciptakan…bersama.
“akhirnya, melodinya selesai juga
Sha!” ujarku bersemangat. Walau matahari sudah mulai tampak senja dan perlahan
digantikan oleh sang rembulan. Aku dan Tisha masih berada di tempat ini. studio
kami, lebih tepatnya ruangan kecil yang di design oleh orangtua ku untuk
menjadi studio kami. Aku dan tisha sudah berminat pada dunia musik sejak kami
kecil, pertama kali saat mama memainkan sebuah lagu melalui pianonya, dan pertama
kali itu lah aku mencintai piano saat aku berumur 6 tahun. Begitu juga dengan Tisha,
papa nya adalah pemain biola dari salah satu pemain terbaik di Juilliard. Namun
sayangnya, papanya telah tiada saat ia berumur 5 tahun. Walaupun begitu, kami
selalu bersama, sejak kecil kami terbiasa hidup bersama, dimulai dari
persahabatan kedua orangtua kami, yang menurun pada kami. Juga bakat bermain
music ini yang mengalir pada darah kami.
“iya Za!! Berarti latihan selanjutnya
kita tinggal buat liriknya ya? Ahh, udah gak sabar!!” ujar tisha juga
bersemangat.
“iyap! Sama nih, besok kamu bisa
latihan Sha?”
“besok? Kayaknya gak bisa Za, aku ada
bimbingan buat olimpiade matematika, maaf ya.” Ujarnya bersungguh-sungguh.
“iya, gak papa, besok aku coba cari
cari liriknya aja dulu kalau sempat, okok”
“sip, eh, ngomong ngomong udah jam
brapa ni Za? Nanti mama khawatir kalau aku pulang kemalaman.”
“jam 7 Sha, aku antar pulang ya?
Sekalian, udah lama gak ketemu tante. Gimana?” tawarku padanya.
“kalau kamu maksa, gak papa deh.
Hahahahahha” ujarnya tertawa bahagia.
“wooo, ge-er. Hahahaha” kami pun
tertawa bersama, sama halnya, setiap harinya, dan tidak pernah bosannya kami
melakukan hal ini bersama dari kami kecil hingga sekarang.
*****
Sesampainya dirumah Tisha…
“kita sampai!” ujar Tisha turun dari
mobil ku dengan kata kata yang sama setiap kalinya pergi kerumahnya dari aku
kecil hingga sekarang.
“ya, kita sampai Tisha, seharusnya
aku yang antusias, kok jadi kamu?” gurau ku padanya
“kamu mengenal aku dengan sangat baik
selain mamaku dari dulu Faza sayang!! Jangan coba coba berpura pura untuk
melupakan kebiasaanku itu. Jika aku merubahnya, kamu akan merindukanku.”
Ujarnya dengan penuh percaya diri.
“kamu lebih mengenal ku dengan sangat
baik Tisha sayang, iya iya.. hahahaha” lalu kami pun hanya tertawa dan memasuki
rumah tisha.
“eh, ada Faza, sudah lama gak main
kesini?” ujar mama Tisha sambil memelukku layaknya seperti anaknya sendiri.
“baru seminggu kok tante, hehehe,
maaf ya tante jarang main kesini, seminggu kemarin itu ada pelatihan yang ketat
buat olimpiade fisika jadi gak sempat tante.” Ujarku membalas pelukan mama Tisha
seperti aku memeluk mamaku sendiri.
“iya gak papa, tante hanya merindukan
nada nada indah dari piano kamu.” Ujar mama Tisha dengan sedikit guraunnya
seperti biasa jika aku sedang kerumahnya.
“kalau gak ada Faza, tante juga gak
bisa dengerin permainan piano Faza kan tan? Berarti tante juga harus merindukan
Faza!! Hahha” ujarku lebih percaya diri dan hanya disambut tawa oleh Tisha dan
mamanya.
“mau ikut makan malam disini Za?”
tanya Tisha setelah tawa kami reda.
“aku pulang aja ya? Soalnya udah
malam nih, besok ada ulangan matematika lagi, kamu sih gak perlu belajar Sha,”
ujarku meledeknya.
“aku juga belajar kali Za, hahaha.”
Ujarnya membalas gurauanku.
“tante, Faza pulang ya?” ujarku
berpamitan pada mama Tisha.
“cepat banget Za?, gak makan malam
bareng tante sama Tisha?”
“besok Faza ada ulangan tante, lagian
udah malam, belum belajar nih tan, hehe. Faza pulang ya tan”
“yaudah, hati hati ya, kirim salam
sama mama dan papa kamu kalau udah balik dari New York” ujar mama Tisha sambil
mengantarku kedepan rumahnya.
“sip tante, beres! Dadah tante, dadah
Sha!”
“hati hati Za” ujar tisha dan mamanya
serentak, aku pun menghidupkan mesin dan melambaikan tanganku pada tante dan Tisha
lalu langsung melajukan mobilku dijalanan.
*****
Keesokan paginya disekolah…
“pagi Tisha!!” sapa ku yang langsung
duduk dibangku ku disebelahnya.
“pagi Za, gimana? Udah belajar?”
tanya tisha yang tahu kebiasaanku jika hanya sendiri dirumah bersama bibi
palingan aku akan bermain piano.
“udah dong, dikit. Hehehe” ujarku
nyengir melihat temanku itu.
“haahh, aku terlalu mengenalmu dengan
baik Za,” ujarnya diikuti oleh tawaku.
“dimananya yang kurang ngerti?”tanya
Tisha sambil mengikat rambutnya. Kebiasaanya seperti ini akan muncul jika ia
sudah mulai akan menjadi guruku. Guru terbaikku.
“di trigonometrinya Sha, hehe”
“iya, bagian yang mananya?” tanya nya
lagi.
“bagian yang aturan sinus nya, aku
agak bingung dalam pemakain rumusnya Sha,”
“ohh, itu kayak gini” dan kami mulai
serius menekuni coretan tangan Tisha yang mengajariku dengan detailnya. Hingga
bel tanda masuk pun berbunyi.
“fighting Za!!” ujar Tisha memberikan
semangat.
“fighting Sha!!” ujarku membalasnya.
Lalu Pak Hartono pun masuk dan langsung membagikan kertas ulangan.
Bel tanda keluar main pun berbunyi,
semua kertas soal dan jawaban pun langsung dikumpulkan. Bagi teman teman ku
yang belum siap mencari kesempatan bertanya saat kami mengumpulkan jawaban. Dan
pada 10 detik terakhirlah kami harus mengumpulkan jawaban tersebut.
“gimana Za?” tanya Tisha padaku.
“sukses dong, kan kamu udah ngajarin
aku! Hehe, aku traktir yok!” ujarku menarikanya ke kantin dan kami menghabiskan
satu mangkok bakso buatan bude yang paling terkenal disekolah ini. Pas ketika
kami selesai makan, bel pun berbunyi, berbaur bersama teman teman yang lain,
perlahan kantin tampak sepi.
“siang anak anak” sapa Bu Ayu guru
sejarah kami tepat setelah aku dan tisha masuk.
“siang bu”ujar kami serempak.
Bagi Tisha yang sangat menyukai
sejarah, memperhatikan dengan sangat serius, berkebalikan denganku yang malah
memainkan melodi piano dari handphone ku dengan menggunakan headset. Tanpa
sadar aku melihat sesuatu keluar dari hidung Tisha, Tisha mimisan lagi. Ya
Tuhan.. aku takut.
“Sha, kamu mimisan lagi, ini” aku
berikan ia saputanganku. Dengan wajah kaget ia meneriman nya dengan cepat dan
menutupi hidungnya. “aku antar kamu pulang ya?” ajakku padanya dengan khawatir.
Gelengan tegas dari kepala tisha tak mampu membuatku menyerah mengajaknya
pulang, Tisha pun mengalah dan akhirnya mau diajak pulang. Dengan izin Bu Ayu,
aku pun pulang mengantar Tisha kerumahnya.
*****
Sesampainya dirumah Tisha…
Cukup lama aku dan Tisha terdiam dan
diikuti tangis pecah dari Tisha, aku hanya mampu memeluknya dengan seluruh
emosi dan air mata yang kutahan dipelupuk mataku.
“kamu gak papa Sha, kamu cuma
kecapekan” ujar ku menenangkannya.
“aku sakit apa Za?” tanya Tisha
sambil menangis.
“kamu hanya kelelahan, dan semuanya
akan baik baik saja, percaya sama aku ya?” ujarku menghapus air matanya.
“aku percaya sama kamu” ujarnya masih
sambil terus menangis, dan yang kulakukan hanya mampu menghapus air mata itu
dan memeluknya dengan erat. Dalam tangis yang cukup lama yang hanya kami
dengarkan bersama.
Hari sudah mulai senja, namun cerita
ku dengan Tisha belum juga usai, Tisha akhirnya mengatakan isi hati, kekesalan,
bahkan kekecewaan yang di pendamnya mengenai hidupnya. Penyakitnya.
“udah malam nih Sha, aku pulang dulu
ya. Jangan nangis lagi ya, kita kuat. Aku tau kamu bisa ngelawan ketakutan
itu.” Ujar ku dengan penuh rasa sayang terhadap sahabat ku itu.
“makasi Za, makasih banyak udah
dengerin curhatan aku.” Ujar Tisha
sambil langsung memeluk ku. setelah itu aku bangkit dari sofa nya dan menuju
keluar rumah. Menghidupkan mesin mobil, melambaikan tangan pada Tisha lalu aku
pun pergi…
*****
“hai Faza..” ujar Tisha dari
belakangku dan mengejutkan ku.
“eh, Tisha.. hai juga, gimana? Udah
baikan kan?” tanya ku dengan khawatir.
“udah,” ujar nya tersenyum. Lalu
setelah itu kami belajar, seperti biasa…
Bel keluar main kedua pun berbunyi….
“kamu kenapa Sha?” tanyaku dengan
raut khawatir. Karna melihat wajahnya yang sangat pucat.
“aku gapapa kok” ujar nya sambil
tersenyum tanpa menghilangkan raut pucat pasi dari wajahnya.
“kamu yakin Sha?” tanya Ika khawatir.
Karna dia juga tau, Tisha ada apa apanya. Ya, Tisha sakit. Dia takut meriksa
kedokter. Dia takut dokter, takut rumah sakit, segala macam yang berhubungan
dengan tempat itu. Hingga akhirnya sampai sekarang kami bahkan Tisha tidak
pernah mengetahui penyakitnya karna mamanya selalu berkata bahwa Tisha hanya
tidak boleh kecapekan.
“iya aku yakin” ujarnya sambil
menenangkan aku dan Ika.
“aku telpon mama kamu ya? Kamu pucat
Sha, pokoknya aku telpon ya. Kamu ga boleh nolak.” Ujarku dengan sangat
khawatir dan memaksa.
“jangan Za, jangan…” ujar Tisha
sambil menangis dan terjatuh dari tempat duduknya.
“Sha! Kamu sakit!! Aku takut. Aku
takut Sha!” ujar ku pada Tisha lalu memeluknya dengan erat. Sedangkan Ika hanya
bisa melihat ku dan tisha sambil menggigit bibir. khawatir.
“aku takut Za, aku takut aku sakit
parah. Aku udah sering mimisan, pingsan. Bahkan terjatuh seperti tadi aku gatau sakit apa.” ujar nya sambil
terisak tangis.
“tapi aku mau kamu sembuh Sha, aku
mau kamu sembuh, aku mau liat kamu yang ceria. Kamu yang kuat. Kamu yang bisa
mengatasi semua masalahmu. Aku tau kamu capek dengan semua ini. tapi aku cuma
mau kamu sembuh Sha. Aku sayang kamu.” Ujarku pada Tisha sambil memeluknya
dengan erat.
“aku mohon, kali ini aja. Jangan
bilang mama ya, aku terjatuh seperti tadi. Aku mhon Za, Ka. Aku mohon” ujar Tisha
dengan suara gemetar belum bisa mengontrol tangisnya.
“iya” ujar Ika sambil mengelus rambut
Tisha dengan sayang. Ya, kami berdua memang sangat menyayanginya. Sangat. GaK
pernah ada yang benci sama Tisha. Dia anak yang terlalu baik dan rapuh untuk
menjalani semua cobaan ini. terlalu rapuh.
“makasih” ujar Tisha sambil memelukku
dan Ika bersamaan. Kami pun menangis bertiga dipojokan kelas, agar tidak ada
yang melihat kami. Berpelukan dalam waktu yang lama. Hingga bel pun berbunyi….
Dan kami pun belajar seperti biasa lagi, menghapus air mata. Menenangkan satu
sama lain. Mencoba tersenyum, dan tertawa bersama.
*****
Sepulang sekolah….
“Za, kamu bisa temenin aku ke
Gramedia gak?” tanya Tisha padaku saat pulang sekolah.
“maaf ya Sha, aku ga bisa nih.
Soalnya, mama sama papa minta jemput di bandara. Jadi aku harus jemput mereka
ke bandara nih. Maaf ya.” Ujar ku menyesal.
“oh, yaudah deh, gapapa. Udah gih,
sana pergi, nanti telat loh ngantar mama sama papa kamu ke bandara..” ujar Tisha padaku..
“iyaaa, bye Shaaaaaa…” ujar ku hendak
pergi namun Tisha memanggil lagi.
“makasi Za, udah jadi sahabat terbaik
aku. Makasih banyak.” Ujar nya tersenyum sambil memelukku.
“iya, sama sama Tishaaa” ujar ku
sambil memeluknya kembali. Dan aku langsung pergi meninggalkannya sambil
tersenyum dan langsung memasuki mobilku. Bergegas pergi menuju bandara
menjemput kedua orangtuaku.
*****
Saat malam harinya….
Bunyi ringtone hp yang ku buat
bersama Tisha membuyarkan lamunanku.
“halo Sha?” ujar ku dari hp.
“Za… ini tante... Tisha pingsan Za…
dia masuk rumah sakit… dia sakit.. sakit parah.. jantungnya Za.. kamu ke sini
ya..” ujar mama Tisha dari seberang telepon sambil terisak tangis. Aku hanya
mampu terpaku, tak mampu mencerna semua kata kata mama Tisha. Hingga akhirnya
aku menyahut telepon itu.
“i..iyaa tante, Faza kesana..” ujar
ku dengan lirih dan terbata bata. Lalu sambungan telepon pun terputus, segera
aku mengambil kunci mobil ku, tidak memikirkan pakaian atau apapun yang aku
bawa.
Setelah sampai di rumah sakit…
“tante, Tisha dimana?” tanyaku dengan
panik dan tanpa terasa air mata mengalir dari pipiku.
“di dalam Za, kamu masuk gih” ujar
mama Tisha yang masih menangis. Aku pun menuju ke kamar Tisha, membuka pintu dan melihat wajah pucat
itu. Kutahan tangis yang akan keluar. Lalu aku hampiri dia.
“Sha, kamu udah sadar? Kamu baik baik
ajakan?” tanyaku khawatir, walau aku tau Tisha sedang memejam kan matanya.
Perlahan, matanya pun terbuka.
“Za, panggilin mama aku tolong” ujar
nya tiba tiba. Dan aku pun hanya menuruti nya. Aku pun datang bersama mama Tisha.
“ma, Tisha mau dengerin Faza main piano, sekaliii aja… bentar lagi
Faza konser kan? Tisha takut Tisha nanti ga bisa liat Faza lagi.” Ujar Tisha
tersenyum sambil memandangku dengan tatapan memohon.
“tapi kamu lagi sakit sayang, kamu
harus dirumah sakit.” Ujar mamanya dengan khawatir.
“Tisha mohon ma, sekali aja.” Ujar Tisha
dengan tatapan sangat memohon. Dan mamanya pun tidak tega melihat putri semata
wayang nya seperti itu. Kami pun meminta izin pada dokter, lalu berangkat
menuju rumah ku. sesampainya di rumah, aku membantu Tisha duduk disofa didekat
piano yang aku miliki. Aku mulai mengambil posisi didepan piano tersebut.
“kamu mau lagu apa Sha?” tanyaku pada
Tisha dengan suara yang ingin menangis.
“lagu kita Za, lagu kita yang kita
ciptakan dulu.” Ujar Tisha sambil memejamkan matanya.
Aku mulai menekan tuts tuts piano,
sambil melantunkan lagu The Sun Is Like
You. Menikmati lagu itu. Hingga lagu itu pun selesai kulantunkan. Aku pun
menuju kesofa tempat Tisha duduk sambil memejamkan mata.
“Sha, aku udah selesai mainnya, kamu
bangun dong..” ujarku padanya. Tak ada sahutan, aku goncang tubuhnya, namun
tubuh itu hanya jatuh lunglai dipelukanku. Tangis ku lepas, bersama mama Tisha
kami peluk Tisha, meneriakkan agar dia bangun, memandang kepada kami lagi,
tersenyum padaku seperti dahulu. Dan yang ku tahu, bahwa Tisha tidak mungkin
bangun. Dia telah pergi untuk selamanya.
*****
1 bulan kemudian…
Konser pianoku pun dimulai, walau aku
tau Tisha tidak berada disampingku saat
ini. Aku tau dia selalu melihatku dari surga sana. Tersenyum. Dan akan selalu
mendukungku.
“Sha, aku udah nyelesaikan lagu kita.
Maaf waktu permintaan terakhir kamu aku hanya melantunkan setengah dari lirik
lagu yang kita buat. Tapi, sekarang lagu ini udah selesai Sha, aku harap kamu
suka.”
Kunyanyikan lagu ini, dengan sepenuh
hatiku. Dengan segenap jiwaku. Untuk sahabat terbaik yang pernah aku miliki
dalam hidupku. Tisha. Lagu ini aku persembahkan hanya untuk Tisha, yang ada di
surga sana. The Sun Is Like You Tisha…
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar