Senin, 24 Juni 2013

The Sun is Like You...

semoga cerpen ini bermanfaat ya!! hehe...:) semoga menikmati bagi yang baca!!:) ini karyaku sendirii, jadi, masih banyak butuh bimbingannya:) terimakasih!! 

The Sun is Like You

            Lantunan melodi antara piano dan biola terindah yang pernah kami ciptakan. Nada nada indah yang kami mainkan dilantunkan dengan segenap jiwa. Memejamkan mata seakan akan terhanyut oleh emosi yang ada. Perlahan namun pasti, melodi terus dilantunkan, membuat suatu melodi indah yang kami ciptakan. Lagu kita. Lagu kami. Yang kami ciptakan…bersama.
“akhirnya, melodinya selesai juga Sha!” ujarku bersemangat. Walau matahari sudah mulai tampak senja dan perlahan digantikan oleh sang rembulan. Aku dan Tisha masih berada di tempat ini. studio kami, lebih tepatnya ruangan kecil yang di design oleh orangtua ku untuk menjadi studio kami. Aku dan tisha sudah berminat pada dunia musik sejak kami kecil, pertama kali saat mama memainkan sebuah lagu melalui pianonya, dan pertama kali itu lah aku mencintai piano saat aku berumur 6 tahun. Begitu juga dengan Tisha, papa nya adalah pemain biola dari salah satu pemain terbaik di Juilliard. Namun sayangnya, papanya telah tiada saat ia berumur 5 tahun. Walaupun begitu, kami selalu bersama, sejak kecil kami terbiasa hidup bersama, dimulai dari persahabatan kedua orangtua kami, yang menurun pada kami. Juga bakat bermain music ini yang mengalir pada darah kami.
“iya Za!! Berarti latihan selanjutnya kita tinggal buat liriknya ya? Ahh, udah gak sabar!!” ujar tisha juga bersemangat.
“iyap! Sama nih, besok kamu bisa latihan Sha?”
“besok? Kayaknya gak bisa Za, aku ada bimbingan buat olimpiade matematika, maaf ya.” Ujarnya bersungguh-sungguh.
“iya, gak papa, besok aku coba cari cari liriknya aja dulu kalau sempat, okok”
“sip, eh, ngomong ngomong udah jam brapa ni Za? Nanti mama khawatir kalau aku pulang kemalaman.”
“jam 7 Sha, aku antar pulang ya? Sekalian, udah lama gak ketemu tante. Gimana?” tawarku padanya.
“kalau kamu maksa, gak papa deh. Hahahahahha” ujarnya tertawa bahagia.
“wooo, ge-er. Hahahaha” kami pun tertawa bersama, sama halnya, setiap harinya, dan tidak pernah bosannya kami melakukan hal ini bersama dari kami kecil hingga sekarang.

*****
Sesampainya dirumah Tisha…
“kita sampai!” ujar Tisha turun dari mobil ku dengan kata kata yang sama setiap kalinya pergi kerumahnya dari aku kecil hingga sekarang.
“ya, kita sampai Tisha, seharusnya aku yang antusias, kok jadi kamu?” gurau ku padanya
“kamu mengenal aku dengan sangat baik selain mamaku dari dulu Faza sayang!! Jangan coba coba berpura pura untuk melupakan kebiasaanku itu. Jika aku merubahnya, kamu akan merindukanku.” Ujarnya dengan penuh percaya diri.
“kamu lebih mengenal ku dengan sangat baik Tisha sayang, iya iya.. hahahaha” lalu kami pun hanya tertawa dan memasuki rumah tisha.
“eh, ada Faza, sudah lama gak main kesini?” ujar mama Tisha sambil memelukku layaknya seperti anaknya sendiri.
“baru seminggu kok tante, hehehe, maaf ya tante jarang main kesini, seminggu kemarin itu ada pelatihan yang ketat buat olimpiade fisika jadi gak sempat tante.” Ujarku membalas pelukan mama Tisha seperti aku memeluk mamaku sendiri.
“iya gak papa, tante hanya merindukan nada nada indah dari piano kamu.” Ujar mama Tisha dengan sedikit guraunnya seperti biasa jika aku sedang kerumahnya.
“kalau gak ada Faza, tante juga gak bisa dengerin permainan piano Faza kan tan? Berarti tante juga harus merindukan Faza!! Hahha” ujarku lebih percaya diri dan hanya disambut tawa oleh Tisha dan mamanya.
“mau ikut makan malam disini Za?” tanya Tisha setelah tawa kami reda.
“aku pulang aja ya? Soalnya udah malam nih, besok ada ulangan matematika lagi, kamu sih gak perlu belajar Sha,” ujarku meledeknya.
“aku juga belajar kali Za, hahaha.” Ujarnya membalas gurauanku.
“tante, Faza pulang ya?” ujarku berpamitan pada mama Tisha.
“cepat banget Za?, gak makan malam bareng tante sama Tisha?”
“besok Faza ada ulangan tante, lagian udah malam, belum belajar nih tan, hehe. Faza pulang ya tan”
“yaudah, hati hati ya, kirim salam sama mama dan papa kamu kalau udah balik dari New York” ujar mama Tisha sambil mengantarku kedepan rumahnya.
“sip tante, beres! Dadah tante, dadah Sha!”
“hati hati Za” ujar tisha dan mamanya serentak, aku pun menghidupkan mesin dan melambaikan tanganku pada tante dan Tisha lalu langsung melajukan mobilku dijalanan.

*****
Keesokan paginya disekolah…
“pagi Tisha!!” sapa ku yang langsung duduk dibangku ku disebelahnya.
“pagi Za, gimana? Udah belajar?” tanya tisha yang tahu kebiasaanku jika hanya sendiri dirumah bersama bibi palingan aku akan bermain piano.
“udah dong, dikit. Hehehe” ujarku nyengir melihat temanku itu.
“haahh, aku terlalu mengenalmu dengan baik Za,” ujarnya diikuti oleh tawaku.
“dimananya yang kurang ngerti?”tanya Tisha sambil mengikat rambutnya. Kebiasaanya seperti ini akan muncul jika ia sudah mulai akan menjadi guruku. Guru terbaikku.
“di trigonometrinya Sha, hehe”
“iya, bagian yang mananya?” tanya nya lagi.
“bagian yang aturan sinus nya, aku agak bingung dalam pemakain rumusnya Sha,”
“ohh, itu kayak gini” dan kami mulai serius menekuni coretan tangan Tisha yang mengajariku dengan detailnya. Hingga bel tanda masuk pun berbunyi.
“fighting Za!!” ujar Tisha memberikan semangat.
“fighting Sha!!” ujarku membalasnya. Lalu Pak Hartono pun masuk dan langsung membagikan kertas ulangan.
Bel tanda keluar main pun berbunyi, semua kertas soal dan jawaban pun langsung dikumpulkan. Bagi teman teman ku yang belum siap mencari kesempatan bertanya saat kami mengumpulkan jawaban. Dan pada 10 detik terakhirlah kami harus mengumpulkan jawaban tersebut.
“gimana Za?” tanya Tisha padaku.
“sukses dong, kan kamu udah ngajarin aku! Hehe, aku traktir yok!” ujarku menarikanya ke kantin dan kami menghabiskan satu mangkok bakso buatan bude yang paling terkenal disekolah ini. Pas ketika kami selesai makan, bel pun berbunyi, berbaur bersama teman teman yang lain, perlahan kantin tampak sepi.
“siang anak anak” sapa Bu Ayu guru sejarah kami tepat setelah aku dan tisha masuk.
“siang bu”ujar kami serempak.
Bagi Tisha yang sangat menyukai sejarah, memperhatikan dengan sangat serius, berkebalikan denganku yang malah memainkan melodi piano dari handphone ku dengan menggunakan headset. Tanpa sadar aku melihat sesuatu keluar dari hidung Tisha, Tisha mimisan lagi. Ya Tuhan.. aku takut.
“Sha, kamu mimisan lagi, ini” aku berikan ia saputanganku. Dengan wajah kaget ia meneriman nya dengan cepat dan menutupi hidungnya. “aku antar kamu pulang ya?” ajakku padanya dengan khawatir. Gelengan tegas dari kepala tisha tak mampu membuatku menyerah mengajaknya pulang, Tisha pun mengalah dan akhirnya mau diajak pulang. Dengan izin Bu Ayu, aku pun pulang mengantar Tisha kerumahnya.

*****
Sesampainya dirumah Tisha…
Cukup lama aku dan Tisha terdiam dan diikuti tangis pecah dari Tisha, aku hanya mampu memeluknya dengan seluruh emosi dan air mata yang kutahan dipelupuk mataku.
“kamu gak papa Sha, kamu cuma kecapekan” ujar ku menenangkannya.
“aku sakit apa Za?” tanya Tisha sambil menangis.
“kamu hanya kelelahan, dan semuanya akan baik baik saja, percaya sama aku ya?” ujarku menghapus air matanya.
“aku percaya sama kamu” ujarnya masih sambil terus menangis, dan yang kulakukan hanya mampu menghapus air mata itu dan memeluknya dengan erat. Dalam tangis yang cukup lama yang hanya kami dengarkan bersama.
Hari sudah mulai senja, namun cerita ku dengan Tisha belum juga usai, Tisha akhirnya mengatakan isi hati, kekesalan, bahkan kekecewaan yang di pendamnya mengenai hidupnya. Penyakitnya.
“udah malam nih Sha, aku pulang dulu ya. Jangan nangis lagi ya, kita kuat. Aku tau kamu bisa ngelawan ketakutan itu.” Ujar ku dengan penuh rasa sayang terhadap sahabat ku itu.
“makasi Za, makasih banyak udah dengerin curhatan aku.” Ujar  Tisha sambil langsung memeluk ku. setelah itu aku bangkit dari sofa nya dan menuju keluar rumah. Menghidupkan mesin mobil, melambaikan tangan pada Tisha lalu aku pun pergi…

*****
“hai Faza..” ujar Tisha dari belakangku dan mengejutkan ku.
“eh, Tisha.. hai juga, gimana? Udah baikan kan?” tanya ku dengan khawatir.
“udah,” ujar nya tersenyum. Lalu setelah itu kami belajar, seperti biasa…
Bel keluar main kedua pun berbunyi….
“kamu kenapa Sha?” tanyaku dengan raut khawatir. Karna melihat wajahnya yang sangat pucat.
“aku gapapa kok” ujar nya sambil tersenyum tanpa menghilangkan raut pucat pasi dari wajahnya.
“kamu yakin Sha?” tanya Ika khawatir. Karna dia juga tau, Tisha ada apa apanya. Ya, Tisha sakit. Dia takut meriksa kedokter. Dia takut dokter, takut rumah sakit, segala macam yang berhubungan dengan tempat itu. Hingga akhirnya sampai sekarang kami bahkan Tisha tidak pernah mengetahui penyakitnya karna mamanya selalu berkata bahwa Tisha hanya tidak boleh kecapekan.
“iya aku yakin” ujarnya sambil menenangkan aku dan Ika.
“aku telpon mama kamu ya? Kamu pucat Sha, pokoknya aku telpon ya. Kamu ga boleh nolak.” Ujarku dengan sangat khawatir dan memaksa.
“jangan Za, jangan…” ujar Tisha sambil menangis dan terjatuh dari tempat duduknya.
“Sha! Kamu sakit!! Aku takut. Aku takut Sha!” ujar ku pada Tisha lalu memeluknya dengan erat. Sedangkan Ika hanya bisa melihat ku dan tisha sambil menggigit bibir. khawatir.
“aku takut Za, aku takut aku sakit parah. Aku udah sering mimisan, pingsan. Bahkan terjatuh seperti  tadi aku gatau sakit apa.” ujar nya sambil terisak tangis.
“tapi aku mau kamu sembuh Sha, aku mau kamu sembuh, aku mau liat kamu yang ceria. Kamu yang kuat. Kamu yang bisa mengatasi semua masalahmu. Aku tau kamu capek dengan semua ini. tapi aku cuma mau kamu sembuh Sha. Aku sayang kamu.” Ujarku pada Tisha sambil memeluknya dengan erat.
“aku mohon, kali ini aja. Jangan bilang mama ya, aku terjatuh seperti tadi. Aku mhon Za, Ka. Aku mohon” ujar Tisha dengan suara gemetar belum bisa mengontrol tangisnya.
“iya” ujar Ika sambil mengelus rambut Tisha dengan sayang. Ya, kami berdua memang sangat menyayanginya. Sangat. GaK pernah ada yang benci sama Tisha. Dia anak yang terlalu baik dan rapuh untuk menjalani semua cobaan ini. terlalu rapuh.
“makasih” ujar Tisha sambil memelukku dan Ika bersamaan. Kami pun menangis bertiga dipojokan kelas, agar tidak ada yang melihat kami. Berpelukan dalam waktu yang lama. Hingga bel pun berbunyi…. Dan kami pun belajar seperti biasa lagi, menghapus air mata. Menenangkan satu sama lain. Mencoba tersenyum, dan tertawa bersama.

*****
Sepulang sekolah….
“Za, kamu bisa temenin aku ke Gramedia gak?” tanya Tisha padaku saat pulang sekolah.
“maaf ya Sha, aku ga bisa nih. Soalnya, mama sama papa minta jemput di bandara. Jadi aku harus jemput mereka ke bandara nih. Maaf ya.” Ujar ku menyesal.
“oh, yaudah deh, gapapa. Udah gih, sana pergi, nanti telat loh ngantar mama sama papa kamu ke bandara..” ujar  Tisha padaku..
“iyaaa, bye Shaaaaaa…” ujar ku hendak pergi namun Tisha memanggil lagi.
“makasi Za, udah jadi sahabat terbaik aku. Makasih banyak.” Ujar nya tersenyum sambil memelukku.
“iya, sama sama Tishaaa” ujar ku sambil memeluknya kembali. Dan aku langsung pergi meninggalkannya sambil tersenyum dan langsung memasuki mobilku. Bergegas pergi menuju bandara menjemput kedua orangtuaku.

*****
Saat malam harinya….
Bunyi ringtone hp yang ku buat bersama Tisha membuyarkan lamunanku.
“halo Sha?” ujar ku dari hp.
“Za… ini tante... Tisha pingsan Za… dia masuk rumah sakit… dia sakit.. sakit parah.. jantungnya Za.. kamu ke sini ya..” ujar mama Tisha dari seberang telepon sambil terisak tangis. Aku hanya mampu terpaku, tak mampu mencerna semua kata kata mama Tisha. Hingga akhirnya aku menyahut telepon itu.
“i..iyaa tante, Faza kesana..” ujar ku dengan lirih dan terbata bata. Lalu sambungan telepon pun terputus, segera aku mengambil kunci mobil ku, tidak memikirkan pakaian atau apapun yang aku bawa.
Setelah sampai di rumah sakit…
“tante, Tisha dimana?” tanyaku dengan panik dan tanpa terasa air mata mengalir dari pipiku.
“di dalam Za, kamu masuk gih” ujar mama Tisha yang masih menangis. Aku pun menuju ke kamar  Tisha, membuka pintu dan melihat wajah pucat itu. Kutahan tangis yang akan keluar. Lalu aku hampiri dia.
“Sha, kamu udah sadar? Kamu baik baik ajakan?” tanyaku khawatir, walau aku tau Tisha sedang memejam kan matanya. Perlahan, matanya pun terbuka.
“Za, panggilin mama aku tolong” ujar nya tiba tiba. Dan aku pun hanya menuruti nya. Aku pun datang bersama mama Tisha.
“ma, Tisha mau dengerin  Faza main piano, sekaliii aja… bentar lagi Faza konser kan? Tisha takut Tisha nanti ga bisa liat Faza lagi.” Ujar Tisha tersenyum sambil memandangku dengan tatapan memohon.
“tapi kamu lagi sakit sayang, kamu harus dirumah sakit.” Ujar mamanya dengan khawatir.
“Tisha mohon ma, sekali aja.” Ujar Tisha dengan tatapan sangat memohon. Dan mamanya pun tidak tega melihat putri semata wayang nya seperti itu. Kami pun meminta izin pada dokter, lalu berangkat menuju rumah ku. sesampainya di rumah, aku membantu Tisha duduk disofa didekat piano yang aku miliki. Aku mulai mengambil posisi didepan piano tersebut.
“kamu mau lagu apa Sha?” tanyaku pada Tisha dengan suara yang ingin menangis.
“lagu kita Za, lagu kita yang kita ciptakan dulu.” Ujar Tisha sambil memejamkan matanya.
Aku mulai menekan tuts tuts piano, sambil melantunkan lagu The Sun Is Like You. Menikmati lagu itu. Hingga lagu itu pun selesai kulantunkan. Aku pun menuju kesofa tempat Tisha duduk sambil memejamkan mata.
“Sha, aku udah selesai mainnya, kamu bangun dong..” ujarku padanya. Tak ada sahutan, aku goncang tubuhnya, namun tubuh itu hanya jatuh lunglai dipelukanku. Tangis ku lepas, bersama mama Tisha kami peluk Tisha, meneriakkan agar dia bangun, memandang kepada kami lagi, tersenyum padaku seperti dahulu. Dan yang ku tahu, bahwa Tisha tidak mungkin bangun. Dia telah pergi untuk selamanya.

*****

1 bulan kemudian… 
Konser pianoku pun dimulai, walau aku tau Tisha tidak  berada disampingku saat ini. Aku tau dia selalu melihatku dari surga sana. Tersenyum. Dan akan selalu mendukungku.
“Sha, aku udah nyelesaikan lagu kita. Maaf waktu permintaan terakhir kamu aku hanya melantunkan setengah dari lirik lagu yang kita buat. Tapi, sekarang lagu ini udah selesai Sha, aku harap kamu suka.”
Kunyanyikan lagu ini, dengan sepenuh hatiku. Dengan segenap jiwaku. Untuk sahabat terbaik yang pernah aku miliki dalam hidupku. Tisha. Lagu ini aku persembahkan hanya untuk Tisha, yang ada di surga sana. The Sun Is Like You Tisha…


-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar